INTELEKTUAL PENGANGGURAN..
(Kolom Mingguan edisi 02, KM-02, oleh Rachmat Thamrin R)
Mahasiswa adalah status yang diberikan kepada orang yang belajar di tingkat perguruan tinggi, mahasiswa selayaknya harus menjadi bagian dari solusi permasalahan2 bangsa ini, diharapkan dengan adanya mahasiswa permasalahan yang ada menjadi berkurang bukan malah bertambah. Permasalahan yang muncul adalah ketika mahasiswa yang menjadi salah satu ujung tombak perubahan bangsa adalah ketika mahasiswa itu telah lulus, kenapa bermasalah? berapa jumlahnya? simak terus tulisan ini
Jumlah mahasiswa yang menjadi pengangguran adalah sebesar sekitar 740.000 ini merupakan data yang diambil bulan Februari 2007, satu semester sebelumnya jumlahnya hanya sekitar 673.000. jadi pertambahan pengangguran setiap semesternya yaitu sekitar 68.000 mahasiswa yang menjadi pengangguran baru, bisa anda bayangkan sampai saat ini berapa jumlah mahasiswa yang menjadi pengangguran, intelektual yang menjadi penggangguran, menjadi beban bukan hanya pada dirinya tapi menjadi beban masyarakat sekitarnya.
kenapa intelektual pengangguran terjadi?
Penyebab terjadinya banyaknya mahasiswa yang menjadi penggaguran adalah sistem pendidikan kita yang mengajarkan untuk menjadi pekerja bukan untuk menjadi pembuat kerja. ini yang menyebabkan mahasiswa bermental untuk mencari kerja ketika sudah lulus nantinya. Ini sebenarnya menjadi hal yang aneh karena hingga tingkat mahasiswa masih bermental pencari kerja ini yang menjadikan pencari kerja membludak karena dari tingkat SMA hingga mahasiswa sibuk mencari kerja, andaikan mahasiswa dapat menciptakan lapangan kerja maka kita bukan menjadi beban tetapi menjadi solusi bagi masyarakat.
yang juga menjadi masalah adalah banyak jurusan yang dibuka untuk kuliah mahasiswa tetapi jmlah mahasiswanya memadai atau jurusan yang ada terutama pada bidang (ilmu sosial, ekonomi, politik, dan hukum) sudah menjadi titik jenuh karena jumlah lulusannya terlampau banyak sehingga lapangan kerja yang ada sangat sedikit menyerap lulusan yang ada, tapi yang terjadi tidak hanya titik jenuh pada jurusan2 tersebut tetapi tidak meratanya kesempatan kerja yang ada hampir sebagian besar lapangan kerja tertumpuk di pulau jawa padahal di luar itu masih banyak daerah yang membutuhkan.
Mental mahasiswa yang berorientasi kerja di-kantor juga turut menyumbang banyaknya jumlah intelektual pengangguran, juga gengsi yang tinggi dari sebagian mahasiswa apabila bekerja secara informal.
solusi yang mungkin diambil?
Penciptaan dan pemerataan lapangan kerja yang dapat memberdayakan lulusan para perguruan timggi, sistem pendidikan seharusnya tidak hanya menekankan pada aspek keilmuan semata seharusnya juga dididik untuk menjadi seorang yang dapat menjadikan seorang mahasiswa dapat menjadi orang yang dapat berinovasi dalam membuat lapangan kerja.
Perbaikan kualitas pendidikan ini memungkinkan calon mahasiswa dapat mengeyam pendidikan berkualitas di daerah masing2 dikarenakan banyak mahasiswa daerah yang kuliah di jawa tidak kembali ke daerah asalnya ini menjadikan penumpukan lulusan di satu tempat.
Membuat lapangan kerja yang cukup dengan kealian lulusan yang tersedia, ini juga diimbangi dengan jumlah mahasiswa yang diterima pada jurusan tersebut, jadi tidak terkesan seperti sekarang yang jumlah mahasiswa jurusan2 tertentu mencapai titik jenuh dalam mencari pekerjaan.
Indonesia tanahnya subur, rakyatnya nganggur
sumber2:
[1] http://www.dikti.org/?q=node/82
[2] http://opinibebas.epajak.org/pendidikan/pengangguran-intelektual-dan-potential-loss-56/
[3] http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=22705&Itemid=62
[4] http://209.85.175.104/search?q=cache:bpnp0c07TbAJ:www.finetext.de/attachment/Artikel%2520Pengangguran%2520Kompas.pdf+jumlah+sarjana+pengangguran&hl=id&ct=clnk&cd=18&gl=id&client=firefox-a
13 tanggapan sejauh ini
Leave a reply
Kita sendiri yang statusnya masih mahasiswa…
kayaknya perlu merenung lebih mendalam ya…
sepemikiran masalah kita ini dididik hanya untuk tenaga profesional kerja namun bukannya pencipta lapangan kerja..
tidak salah memang tetapi masa semua mau jadi karyawan?itu yg jadi permaslahan ky smpean bilang…
solusinya kurang nyata ni bang,masi terlalu umum,belum spesifik,solusi nyatanya,hehe..
makanya rin!! cepet lulus!!! biar ntar saingan kita dapet kerja lebih dikit (klo g niat wiraswasta :p)
tp… kyknya.. lebih baik menunda kelulusan untuk memperkaya diri dengan ilmu dan softskill, juga membantu pemerintah bwt mengurangi pengangguran
Iya rin bener,
kapan ya mahasiswa kita dapat mempertahankan idealisme kita.
seperti keluhannya salah satu teman saya di http://lebihbaik.wordpress.com/2008/06/07/bernapas-dalam-dalam/
Wew..
Susah juga ya kita..
Udah masuk susah.., keluar susah.., udah keluar masih aja kesusahan..,
FDA jalan terus…..
kapan lagi nih?!?!?!?
iyah, sepertinya harus menerenung lebih dalam…
he
salam kenal…
bener juga yang mas Thamrin bilang…
tapi masalahnya selain sistem pendidikan yang tidak mengajarkan hal itu, itu juga dipicu oleh keterbatasan modal dari kita sendiri..
skill diperlukan namun modal juga termasuk hal vital yang harus diperhitungkan..
modal? ketika pemerintah serius dengan pendidikan maka seharusnya anggaran pendidikan 20% dipenuhi dahulu, untuk modal berapa banyak keuntungan perusahaan asing di Indonesia yang seharusnya hasil bumi kita dikelola negara bukan asing dan untuk kesejahteraan rakyat, banyak bukan?
Nimbrung nih, memang benar PT & dunia pendidikan kita kayaknya seperti mesin produksi “sarjana & diplomanya” yg punya “brand” yg beragam dg kualitas kebanyakan dibawah standart bursa kerja.Sehingga daya serap pasar dalam negeri (swasta)rendah disamping bursa TK yg juga sdh sempit.Mungkin jg kita perlu lagi buka jurusan sales/marketing/negosiator di Perguruan Tinggi yg pasti nanti diharapkan alumnusnya bisa menjual “dirinya” di bursa dalam negeri maupun global. Khan plng tdk klu lulusannya banyak nganggur, jurusannya ditutup.
to glend
terima kasih sudi mampir
yang tidak kalah penting adalah orientasi pendidikan nasional kita yang kurang jelas, kurikulum bisa berubah tiap tahun, seharusnya jelas pendidikan seharusnya dapat membuat peserta didik paham kenapa dia belajar, dan buat apa dia belajar,mau kemana dia setelah ini? pertanyaan ini saja saya rasa sudah cukup untuk membuat kita merenung, sebenarnya kita dibawa kemana?
contoh kecil saja lulusan SMA yang binggung memilih jurusan ketika sudah lulus, apalagi mikir kerja…? pendidikan kok bisa membuat binggung…?
Memang harus dilihat dari kedua sisi.
Yang pertama dari sisi individu. Seorang muslim memiliki kewajiban untuk mencari nafkah yang halal. Namun seringkali kalau kita melihat eks-mahasiswa (kok g enak bahasane) yang nganggur, sebagian besar di antara mereka bukannya tidak sanggup mencari nafkah, hanya mereka menunggu atau mencari pekerjaan yang “menjanjikan”. Kerja dikit, duit banyak. Mereka menghindari pekerjaan yg mereka anggap “nista” semisal jualan nasi bungkus, jadi loper koran, dsb.
“..Mental mahasiswa yang berorientasi kerja di-kantor juga turut menyumbang banyaknya jumlah intelektual pengangguran, juga gengsi yang tinggi dari sebagian mahasiswa apabila bekerja secara informal…”
Pernyataan tersebut memang benar.
Yang kedua dari sisi pemerintah, pemerintah telah gagal menyediakan lapangan pekerjaan, sehingga wajar apabila sebagian masyarakat “menciptakan” pekerjaannya sendiri (calo, copet, tukang gendam, dsb). Nah itu memang harus diselesaikan.
Penyelesaiannya? Karena persoalan sistemik maka harus ada perubahan sistem, menuju sistem Islam.