DIBALIK TURUNNYA HARGA PREMIUM?

(Kolom Mingguan edisi 09, KM-09, oleh Rachmat Thamrin R)
Per tanggal 1 Desember 2008 pemerintah secara resmi menurunkan harga premium sebesar 500 rupiah per liternyam dan rencananya pada tanggal 1 Januari 2009 akan kembali menurunkan harga BBM dan meralatnya menjadi 15 Desember 2008 lebih cepat dari rencana awal. yang menjadi pertanyan apakah penurunan harga ini telah layak? dan kenapa pula begitu lama waktu yang diperlukan untuk menurunkan harga BBM ini?

Masih segar dalam ingatan kita bahwa dahulu pemerintah ketika menaikkan BBM mengunakan alasan bahwa harga minyak dunia naik, tapi ketika harga minyak dunia turun drastis kenapa pemerintah begitu lama untuk menurunkan harga BBM ini?

Harga minyak dunia sekarang berada di bawah $50/barel, yang menjadi pertanyaan 1 barel itu berapa sih? satu barel adalah sekitar 158,98 liter, atau kita bulatkan saja menjadi 159 liter. jadi sekarang anda bisa menghitung sendiri kan berapa harga BBM yang seharusnya kita bayar.

Kita anggap 1 Dollar US = RP 12.000, maka harga BBM secara sederhana dapat dihitung sebagai berikut 50 x 12.000 /159 maka harga perliter yang didapat adalah 3773.585, walaupun mungkin ada komponen biaya yang lain tapi tidaklah signifikan karena akan diberikan subsidi.

Dirjen Migas Departemen ESDM Evita H. Legowo mengatakan di depan DPR pada tanggal 11 Desember 2008 bahwa harga keekonomisan premium adalah Rp 4830 per liternya dan dengan mengacu ucapan Jusuf Kalla pada tulisan saya sebelumnya yang mengatakan besaran subsidi premium adalah 1000 per liternya berarti seharusnya harga yang dijual pemerintah untuk premium adalah Rp 3830.

Pendapat penurunan harga BBM terutama jenis premium dan solar untuk menjadi sekitar Rp.4000 tidak hanya menurut hitungan saya diatas, salah satu anggota DPR Drajat H Wibowo yang juga seorang ekonom juga mengungkapkan analisa harga yang seperti itu.

Seharusnya penurunan harga BBM dilakukan jauh2 hari sewaktu harga minyak dunia sudah mulai turun drastis, bukan malah ditunda2 untuk sekian waktu. ini menjadikan bukan negara yang mensubsidi rakyat tapi rakyat yang mensubsidi negara.

yang menjadi pertanyaan adalah setiap ada gejolak harga minyak dunia entah naik maupun turun terus diwacanakan pencabutan subsidi BBM oleh pemerintah dan sering diucapkan oleh Jusuf Kalla, ketika harga BBM naik dikemukakan alasan bahwa ini akan membebani APBN karena subsidi membengkak, ketika harga minyak turun dikatakan ini sebenarnya kita tidak butuh subsidi lagi karena harga telah murah, jadi yang harus diwaspadai adalah skenario bahwa subsidi sebenarnya akan dihilangkan tinggal menunggu moment yang tepat.

Jadi sebenarnya apakah mereka berpikir adalah beban apabila menolong rakyat melalui subsidi, sehingga subsidi sepertinya sengaja dihilangkan satu per satu. Apakah penurunan ini disengaja untuk mendrongkrak citra demi pemilu 2009(?), kita nantikan saja apakah ada juga partai yang mendapat ilham untuk membuat iklan politik demi keuntungan partainya saja tapi bukan untuk rakyat(?).

sumber:
[1]jawapos.com
[2]detikfinance.com
[3]id.wikipedia.org
[4]tempointeractive.com
[5]beritasore.com
[6]detik.com

Belum ada komentar

Leave a reply