MENGHARGAI MAKANAN KITA

Sebagai seorang makhluk hidup makan adalah salah satu kebutuhan pokok dari kehidupan kita selain papan dan sandang. Tapi kebanyakan dari kita ketika makan sangat jauh dari kata menghargai makanan itu sendiri, apa bentuk tidak menghargainya kita terhadap mekanan kita sehari-hari simak saja terus.

Sehari-hari kita melakukan aktivitas yang disebut sebagai makan, untuk kebanyakan mahasiswa yang kuliah dan ngekost aktivitas ini kebanyakan dipenuhi dengan cara membeli walaupun ada yang membuat makan sendiri, tapi jaman sekarang mahasiswa yang membuat sendiri makanannya semakin sedikit.

Tetapi apabila saya makan di warung seringkali terlihat banyak orang yang makan dan menyisakan nasi di piringnya, dan dengan entengnya mengakhiri makannya. Bukan hanya sesuap nasi atau nasi2 yang tercecer pernah terlihat nasi yang masih separo dan ditinggal oleh pembelinya. Pernah iseng2 saya tanya kok g dihabisin? jawabannya beragam ada yang menjawab wah kebanyakan nasinya, g enaklah, bahkan ada yang paling parah menurut saya yaitu saya kan sudah bayar ya terserah saya donk (jawaban terakhir membuat miris bukan?)

Padahal andaikata sesuap nasi yang tidak termakan tadi kita kumpulkan dalam satu kota satu hari saja berapa orang yang dapat kita beri makan gratis, makanan yang mereka makan sebenarnya melalui keringat para petani yang menunggu padinya selama 3 bulan, buruh angkut yang mengangkut beras, tukang masak yang memasak nasinya, jadi sebenarnya untuk hadir di piring kita memerlukan waktu yang lama dan pengorbanan banyak orang, dan kita hanya tinggal menyantapnya saja.

Apakah mereka yang suka menyisakan makanannya tidak pernah untuk memikirkan itu? bahwa makanan yang hadir di sepan kita merupakan hasil keringat banyak orang dan kita menyepelekan hanya karena kita punya uang? dan tidak pernahkah kita membayangkan orang2 yang susah makan sehingga barang sampahpun mereka sanggup memakannya. Kita sekarang menjadi bangsa yang sombong, dan berkata tentang kepedulian padahal mereka sendiri makanpun tak mereka tak hargai.

Jadi sebenarnya makanan itu cukup kalo kita dapat menghargai dan peduli. Mulailah untuk dapat menghargai dengan menghabiskan makanan yang dihidangkan kepadamu, bersyukurlah karena masih banyak orang yang makan makanan yang tidak layak dan kita hanya gara2 tidak enak rasanya saja menjadikan kita ogah2an untuk menghabiskan.

Mulailah untuk tidak menyisakan makananmu kembali,ingat kita lebih beruntung masih bisa untuk makan.

Iklan

12 comments so far

  1. Yogjay on

    Bos… saia sudah berusaha untuk tidak membuat petani dan ibu pemilik warung sedih, karena nasi yang mubadzir.

    Yang saia lakukan adalah dalam 1 hari cuma makan 1 kali, dan porsinya separo aja. So, karena kelaparan, maka tak akan ada nasi yang tersisa, karena bakal saya santap abis…

  2. bhagas on

    yang pasti menyisakan makanan itu mubazir,ehehehe

  3. sub on

    ta tambahi, mubadzir itu temannya setan…..

  4. rahmat ihsan on

    Jangan lupa berdoa sebelum dan sesudah makan.
    (agak gak nyambung ya?)

  5. pepe on

    mari moco iki nggarai luwe… šŸ˜€

  6. rthamrinr on

    to pepe
    nek mangan eling ojok disisani.
    kudu entek, mubadzir, la nek mubadzir itu temennya setan (refer to komentnya subhi)

  7. Arum on

    Yups..setuju bgt..
    klo ak biasanya kan beli nasi bungkus..klo sekali gk habis biasanya tak simpen dulu bwt makan ntar kl laper lagi..

  8. cho2ey on

    Waduh, sejak jadi mahasiswa aku makin menghargai makanan mas.

    Soalnya tiap tgl 26 ke atas aku makan indomie terus sih.
    huhu T_T
    nasib anak kost šŸ˜›

  9. agus on

    wlah2

    ak kadang2 juga menyisakan makanan… gmana??

    kalo perutmu dah gak kuat gmana?

  10. rthamrinr on

    to agus
    sebelum makan kan kita bisa ukur seberapa besar kita kuat makan.
    la kalo kebanyakan kan bisa kita kurangi diawal.
    kalo beli makanan n kira2 g habis bilang aja g usah banyak2.

  11. lio on

    kalo dalam kasus diatas, ada beberapa poin yg sy tangkap:
    1. ibu warungnya kebanyakan nanduki
    2. masaklah makanan anda sendiri
    3. penulis suka wisata kuliner di warung

    peace gan..

  12. rthamrinr on

    to lio
    terima kasih telah sudi mampir

    kalo dalam kasus diatas, ada beberapa poin yg sy tangkap:
    1. ibu warungnya kebanyakan nanduki
    >> di beberapa warung penjual menyediakan nasi dalam porsi besar, sehingga kalo ditakutkan tidak habis mending bilang di awal untuk mengurangi nasi.
    2. masaklah makanan anda sendiri
    >> g bisa masak lauk sama sayur, cuma bisa nanak nasi, g sempet
    3. penulis suka wisata kuliner di warung
    >> wisata kuliner sangat2 jarang, tapi kalo yang dimaksud wisata kuliner adalah setiap makan beli di warung itu sebagian besar betul org mahasiswa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: